Jumat, 30 Maret 2012

Balada Seorang Mahasiswa dan Skripshit


Agak terlambat mungkin kalo gue nulis tentang buku ini sekarang. Tapi gue gak tahan banget buat numpahin segala emosi gue setelah baca buku ini.
SkripshitKu

#SKRIPSIT

Sabtu, 24 Maret 2012

BAHAGIA ITU SEDERHANA

Inikah kebhagiaan??? (Sumber)

Dimana kita menemukan kebahagiaan??

Mungkin itu pertanyaan bagi banyak orang. Termasuk aku, aku yang benar benar merindukan kebahagiaan.

Banyak dari kita berusaha mencari, dan menemukan kebahagiaan. Kita berusa menggapai sesuatu yang tinggi dan yakin kita akan bahagia. Namun kenyataannya setelah kita mencapai apa yang kita mau, kita sama sekali tidak bahagia.

Ini yang perlu di ingat,

KEBAHAGIAAN BUKANLAH PENCAPAIAN, TAPI SEBUAH KEPUTUSAN

Kamis, 22 Maret 2012

Keenan Is Me

Keenan Artwork By Yahya "Mamon" Muhaimin
Ini tentang novel yang menjadi "guru" bagiku

Katakanlanlah aku  sangat terlambat untuk mengenal novel berjudul Perahu Kertas. Sudah dari 2009 Novel ini terbit dan aku baru membacanya sekarang. Jadi aku tidakakan menulis reviewnya di sini, jika anda googling maka reviewnya sudah bertebaran dan anda tinggal memilih mau baca yang mana.

Ini tentang sebuah pelajaran penting yang kudapat. Aku menemukan diriku di dalam novel ini. Tentang sebuah mimpi yang harus bertentangan dengan realita. Tentang harapan harapan yang menggebu, namun harus padam karena suatu hal. lalu mimpi itu, seketika kembali ke permukaan. setelah sekian lama tertimbun, setelah sekian lama tersimpan tanpa ada harapan menjadi kenyataan.

Aku menemukan diriku dalam diri keenan. Tokoh yang fantastis, inspiratif. Sebagaimana keenan, aku juga mempunyai mimpi yang berlawanan dengan apa yang sedang kujalani. Sejak kecil, tepatnya kelas 1 SD  aku sudah meyakinkan diri untuk menjadi penulis kelak.

Selasa, 20 Maret 2012

Sotoji, Sederhana dan Istimewa

Pagi ini,

Pagi ini akudikejutkan oleh ibuku. Baru saja bangun, aku sudah dilempar sebuah pertanyaan. "Kamu jadi ikut lomba review Sotoji?,". Ah, entah kenapa aku menjadi tak begitu bersemangat untuk mengikuti lomba ini, kegagalanku beberapa kali mungkin membuatku menyerah atau bahkan takut kalah.

Sekitar sebulan yang lalu satu paket sotoji   sampai ke rumahku. Aku tengah tidur siang waktu itu. Tiba-tiba pintu diketuk, seorang petugas pengantar kiriman disambut ibuku. "Apakah benar ini rumah pak Yahya Muhaimin?,". Dari dalam aku bisa mendengar pertanyaan itu, aku tertawa kecil, aku sekarang sedang jadi bapak-bapak. "Saya sulit mencari alamatnya, jadi sedikit terlambat," tambahnya.Memang aku memesan dua minggu sebelumny, dan ini memang paket pertama yang dikirim ke rumahku. Posisi rumahku di dalam gang, tidak ada nomornya pula, jadi sulit ditemukan. Biasanya aku memakai alamat Pamanku, rumahnya tepat di tepi jalan raya.


Sabtu, 17 Maret 2012

DORRRRR!!!!!

Dorrrr!!!!!!!!! (Source)

"Bersembunyilah di sini nak!!! Ayah akan keluar, jaga baik-baik ibumu!" Ayah memegang kedua pundakku lalu menepuknya. Di luar teriakan demi teriakan sahut menyahut.
 
"Ayah mau kemana?," Tanyaku pada ibuku. Ibu memelukku erat sekali.

"Ayahmu berjuang nak!," Jawabnya singkat. Tampak sekali ia juga sedang ketakutan.

"Tenanglah, ibu akan menjagamu!," Sambungnyalagi, aku menangis.

"Tidak, ayah meminta aku menjaga ibu. aku yang akan menjaga ibu," Aku masih terus menangis. Dari lobang di dinding aku melihat di luar semakin ramai, api berkobar. Rumah yang berjaran dua rumah dari rumahku telah terbakar. Ibu memelukku semakin erat.

"Tok...Tok...Tok..." Pintu diketuk keras sekali. Ibu melepas pelukannya. Buru-buru ia membuka pintu. Aku sembunyi di bawah meja.

"Lari!!! kalian harus lari!!!," Teriak Ayah sambil menahan rasa sakit. Sebuah peluru bersarang di dadanya. Ibuku menangis histeris. Aku masih mematung di bawah meja.

 "Pergilah!!!, tidak ada harapan bagi kita untuk menang," ayah mendorong ibuku untuk pergi, ia semakin lemah. Tak lama kemudian ia terduduk bersandar pada lemari di dekat pintu. Wajahnya pucat. Ibu masih menangis, ia tak tahu harus berbuat apa.

"Pergilah!!," Ujar ayah lirih, ditariknya nafas dalam-dalam lalu terkulai layu. Ibu tambah histeris. Aku mematung di bawah meja.

"Ini dia orangnya, dia sudah mati" Seorang berseragam berdiri di depan pintu menunjuk mayat ayah. Beberapa lagi menyusulnya. Ibu berlari menyambarku, aku dipeluknya erat.

"Satu lagi teroris mati bung!!," Salah satu dari mereka tersenyum kepada yang lain.

"Kita menang, Bonus lagi buat kita," Tambahnya lagi. aku geram, mereka telah membunuh ayahku. Aku berontak melepaskan diri dari ibuku. Ia terus merengkuhku, namun aku tak mau kalah. Segenap tenaga kukerahkan, aku bebas. Aku berdiri beberapa langkah di depan ibuku. Entah kenapa, ibuku hanya diam.

"Ibu, menyerahlah!! ikutlah bersama kami! nyawa ibu dan anak ibu akan selamat," Salah satu dari tiga pria berseragam itu mendekat. Ibu mundur beberapa langkah, aku maju beberapa langkah.

"Ibu tidak mau kan, mati bersama suami ibu yang keparat ini?," ujarnya lagi.

"Berhenti mengatakan ayahku keparat!!," Sergahku.

"Wah, kamu masih kecil udah mewarisi  bakat memberontak ayahmu ya? sini sama om! om akan didik kamu biar tidak menjadi teroris seperti ayahmu,"

"Ayahku bukan teroris!!,"Sergahku lagi. Aku berlari ke arahnya menubrukuan diri ke selangkangannya. Dia meringis. Ibuku menyambar tombak yang terpajang di dinding. Belum sempat ia mengarahkan tombaknya,...

"Dorrr" Sebuah peluru menembus dadanya. Ia tumbang. Namun aku tidak menangis.

"Kamu anak hebat!!!," bisik pria itu ke telingaku.


20 Tahun kemudian

Aku bergegas, ini masih dini hari.

"Oni!! ayo cepat!! Jangan sampai komandan marah lagi hari ini,"  Sare mengingatkanku. Dengan tergesa gesa kukenakan seragamku. Kali ini bukan tugas yang  ringan, kami akan menyergap sarang teroris di pinggiran kota.

Selasa, 13 Maret 2012

Dia itu Bapakku


Bapakku-Pahlawanku

Aku melihat sesosok tubuh berdiri di didepanku. Ia tak cukup tinggi, bahkan aku lebih tinggi darinya. Kulitnya mulai keriput, waktu telah memakan usianya. Dia itu Bapakku.

Dua puluh tiga tahun yang lalu, seorang pemuda kota, merantau jauh ke hulu sungai kapuas. Mengemban tugas mulia, menjadi seorang guru agama di sebuah kampung nun jauh di pedalaman. Ia benar-benar seorang pejuang, jauh jarak tak menjadi beban. Banyaknya sahabaa-sahabatnya  yang menolak ditugaskan ke pedalaman sama sekali tak membuat tekadnya runtuh. Telah tertanam di hatinya, tekad pengabdian yang kokoh. Dia itu Bapakku.

Kamis, 08 Maret 2012

Mesin Ketik Itu Sebuah Kenangan

Mesin Ketik : Seperti pahlawan, ia sering terlupakan

Aku tiba-tiba tersentak. Sebuah benda menarik perhatianku. Di pojok dapur, di antara barang-barang yang sudah lama tak terpakai. Aku tertegun sejenak, sepertinya aku mengenalnya. Kupegang dengan kedua tanganku, sedikit berat. Kuusir debu debu, kuselamatkan dia dari tumpukan itu. Aku sangat mengenalnya, sebuah mesin tik tua.  Dulu, saat komputer belum menyerbu desa desa dan dusun dusun, ia adalah primadona. kini, saat teknologi kian maju, ia tersingkirkan.