Berapa banyak manusia di dunia ini yang bertahun-tahun menyimpan perasaannya sendirian dan tak pernah disampaikan.
Ada yang memang tak memiliki keberanian, adapula yang mengatasnamakan kehormatan perasaan. Perasaan cinta tak perlu diumbar-umbar, cukuplah engkau yang datang ke rumahnya membawa lamaran. Ah, seandainya semudah itu.
Urusan mengungkapkan perasaan atau tidak bisa jadi menjadi teramat sangat rumit. Bisajadi kau ingin mengungkapkan tapi kau merasa dirimu belum pantas. Hingga di suatu titik kau menerima kenyataan dia sudah menjadi milik orang lain. Akan lebih menyakitkan bila ternyata dia diam-diam memiliki perasaan untukmu.
Di suatu waktu yang lain bisajadi kau memilih mengungkapkan, membiarkan dia menunggu dengan berjuta-juta perasaan harap-harap cemas. sedang dirimu semakin hari semakin merasa asing dengan perasaan, tumbuh perasaan yang lain hingga kau meninggalkan. Ah, mudah sekarang kau adalah pria pemalsu harapan.
Barangkali kita tak perlu memusingkan banyak hal, cukup melangkah maju ke depan dengan tegap. Menulikan telinga atas penilaian-penilaian, mematika rasa atas ketakutan-ketakutan.
Jumat, 04 Maret 2016
Minggu, 17 Januari 2016
KAMU, HUJAN, DAN KENANGAN
hai, apa kabarmu? hujan sering turun di kotaku.
masihkah kau gemar bermain di bawah rintik hujan? atau sekedar mengulurkan tangan, menyambut tetesan hujan dengan telapak tanganmu yang lembut.
masihkah kau gemar bermain di bawah rintik hujan? atau sekedar mengulurkan tangan, menyambut tetesan hujan dengan telapak tanganmu yang lembut.
barangkali kau masih ingat tentang surat-surat yang kukirimkan. juga kaset-kaset berisi lagu-lagu romantis yang kurekam dari musik di radio.
ah sudah berapa lamakah itu?tiga tahun, empat tahun, lima tahun? entahlah. kita sudah sepakat untuk menjadikan semua itu kenangan.
seperti pita-pita kaset itu, begitulah hujan merekam dan menyimpan kenangan. semua rindu itu masih teringat lekat.
Minggu, 27 September 2015
Pria Yang Menikahi Kesepian
di suatu waktu, aku bertemu seorang pria tua yang menghabiskwan sisa umur di gubuk reot di tepi kota. rambutnya sudah rontok, giginya tinggal seadanya.
saat aku bertamu ke rumahnya, aku melihat ia menggengam cangkir kopi yak tak lagi ada isinya. di depannya, sebuah buu catatan tebal tengah terbuka, dan di sampingnya tergeletak pena dari bulu angsa.
pria tua itu, pria yang puluhan lalu namanya dipuja-puji di seluruh kota. seorang penyair jenius yang semua sairnya mampu membuat derai air mata. derai haru derai duka.
aku duduk di sampingnya, melihat jarinya yang keriput mengetuk-ngetuk meja. kupikir ia sedang akan membuat sajak.
"sudah 10 tahun aku tak lagi menulis sajak, sajakku sudah mati, dikubur di dalam sunyi" ujarnya pelan, seolah membaca pikiranku barusan.
aku tak habis pikir kenapa ia memilih sendiri hingga renta. padahal puluhan tahun yang lalu, jikalau dia hendak malamar gadis maka tinggal tunjuk saja. niscaya sang gadis akan ikhlas menjadi istrinya.
"Semua wanita itu makannya nasi, bukan puisi" ujarnya lagi. Apakah ia benar-benar membaca pikiranku? entahlah. Ya, aku tahu hidup menjadi penyair tak ada duitnya. orang-orang gemar menikmati tapi enggan memberi. ia hanya pengamen sajak, membacakan sajak dari sisi jalan yang satu ke jalan yang lain. dari teras kafe yang satu ke teras yang lain. kadangkala ia mentas di panggung balai kota, tapi bayarannya hanya akan tahan untuk satu bulan saja. Ah tapi bukankah bila sudah cinta segala kesulitan tak akan begitu pahit? kenapa dia begitu betah sendiri?.
"Aku tak pernah sendiri anak muda. Aku telah menikahi kesunyian, kesunyian tak mengkhianati, tak akan pergi sebelum aku pergi". Sialan dia membaca pikiranku lagi. Aku menuangkan kopi dingin dari teko ke gelasnya. Satu sesapan, cangkir itu kosong lagi.
27-09-20115
Kamis, 17 September 2015
MAK CIK MARYAMAH
Pagi pagi sekali, makcik maryamah sudah pergi ke kebun karet untuk menoreh getah . Bukannya apa, sudah beberapa hari si bungsu merengek minta dibelikan sepatu baru. Itu adalah suatu ketika di musim penghujan sekitar 20 tahun yang lalu.
Si bungsu pagi itu bersumpah tak akan pergi sekolah kalau sepatu baru tak juga dibelikan. Bukannya apa, teman-temannya baru saja dapat sepatu bantuan pemerintah. Sialnya tak semua dapat, dan si bungsu salah satu yang tidak beruntung.
Berkali-kali Mak cik maryamah meminta si bungsu bersabar. Musim penghujan bukan waktu yang baik untuk menoreh getah. Tapi si bungsu tetap tak mau berhenti merengek. Seharian si bungsu guling-gulingan di teras rumah, tidak mau makan.
Padahal sebelum-sebelumnya si Bungsu itu tak pernah mengeluh. Sepatu putih yang dipakainya sejak lama memang sudah tak putih lagi. Bila sudah demikian biasanya ia mengumpulkan kapur sisa dari sekolah. Di tengah hari yang panas ia akan sibuk mengoleskan serbuk kapur ke sepatunya agar terlihat lebih putih.
Selain sebab sepatu teman-temannya yang baru ternyata ada lagi penyebab utama si bungsu ini merengek. Kelas lima, itulah kelasnya si Nurlela, anak kepala sekolah. Rambutnya panjang matanya berkilauan. Ada lesung pipit menghias kedua pipinya. Gadis yang ditaksir si bungsu diam-diam. Si bungsu yang sudah kelas enam sering pura-pura punya urusan di kelas lima. Diam diam curi curi pandang.
Rabu, 16 September 2015
Dia yang Duduk di Tepi Kapuas
itu adalah suatu malam yang hening di tepian kapuas. matanya lekat memandang langit malam denngan jutaan cahaya bintang. bibirnya komat-kamit seperti merafal mantra, atau entah menyebut sebuah nama.
ia duduk di gertak kayu yang sudah begitu tua, sesekali ombak air membuat gertak terasa bergetar. pikirannya melayang entah kemana, di matanya hanya terlihat seulas wajah, wajah yang terus menghantui malam-malamnya.
sudah setahun terakhir ia berulah demikian. teman-teman sebayanya, bapak-bapak yang nongkrong di warung kopi di dekat dermaga, juga ibu-ibu yang mencuci pakaian di lanting-lanting kecil, selalu menempelkan telunjuk yang dimiringkan di jidat setiap kali melihatnya.
usianya baru 22, baru terlepas dari masa remaja. hanya sekali jatuh cinta, dan ittu sudah cukup membuat hatinya merana demikian rupa`
suatu waktu satu tahun yang lalu ketika ia mengantar ikan pesanan pelanggannya yang punya rumah makan di persimpangan sana, ia berjumpa dengan wanita itu, wanita dengan bola mata yang mempesona, juga senyum yang mampu mendobrak jiwanya.
lalu perasaan itu membuat ia tak enak makan tak nyenyak tidur. tak ada pesananpun ia senantiasa datang ke rumah makan itu, pura-pura bertanya atau iseng membantu mencuci piring sambil curi-curi pandang barang sekejap dua kejap.
hanya tiga bulan saja, maka mendung sempurna menghiasi wajahnya. wanita itu, wanita yang dikaguminya diam-diam dilamar seorang juragan beras dari ibu kota, pria tua dengan kacamata dan giginya yang tinggal dua saja. ah, mengingatkan pada siti nurbaya saja.
tapi berbeda dengan siti nurbaya, sang wanita dengan senang menrima pinangan sang kakek yang sudah layak menyiapkan kafan itu. bagaimana tidak, dalam dua hari saja sang kakek sudah membuat ia harus berjalan terbungkuk-bungkuk karena beratnya kalung yang ia pakai.
Pak Tua Asap
Pria tua itu, pria dengan dasi merah menyala, pria dengan jas dapat beli dari Italia. Matanya memandang keluar, memandangi kabut yang menutupi pandangan matanya. ini sama sekali bukan embun.
Barusaja ia mendapat telepon, izin perusahaannya terancam dicabut. Tuntutan masyarakat kepada pemerintah berimbas pada pengusutan pelaku pembakaran lahan yang menyebabkan sekian juta masyarakat seperti ikan yang diasapi.
Beberapa menit yang lalu ia baru saja mengamuk di ruang kerjanya, melempar berkas-berkas penting ke sembarang tempat, memecahkan vas bunga, juga membanting komputer jinjing keluaran terbaru yang bahkan belum beredar di Indonesia.
"BANGSATTT!"
Si Alan
"Sialan!!" Serunya sambil meremas kertas di tangannya. Ini sudah ketiga kalinya ia gagal di tes yang sama. Dua tiga hari sebelum tes, bapaknya yang mantan sekretaris kelurahan itu sudah mewanti-mewanti agar ia giat belajar. Tapi dasar ia yang pemalas, ia malah menghabiskan beberapa hari terakhir dengan bermain layangan bersama anak-anak SD di gangnya.
Perang besar akan meledak di rumahnya. Sudah dua tahun ia luntang lantung. Setelah dua kali gagal masuk perguruan tinggi negeri, bapaknya tetap tak mengizinkannya masuk perguruan tinggi swasta. Maka resmilah ini adalah kegagalannya yang ketigakali.
"Perguruan Tinggi Negeri, atau tidak sama sekali" begitu ancam bapaknya pada suatu sore saat ia meminta bapaknya mengizinkan ia masuk perguruan negeri swasta saja. Ia hanya menundukkan kepala, memandang asbak berisi puntung rokok sisa bapaknya.
ini semua salah bapaknya, saat ia lulus SMA, bapaknya pamer kemana mana bahwa anaknya dapat nilai Ujian terbaik di sekolahnya. Nilainya nyaris rata-rata sembilan. Bapaknya yang masih senang mengenakan seragam dinas mesti tak lagi menjabat itu berbuih-buih mulutnya ketika bercerita tentang anaknya yang pasti akan lulus masuk perguruan tinggi negeri.
Yang bapaknya tidak tahu, anaknya yang ia bangga-banggakan itu tak lebih dari tukang bikin onar di sekokah. Dan nilai-nilai itu, adalah hasil kongkalikong dengan teman-temannya yang anak anggota dewan, membeli soal lengkap dengan jawabannya. Maka walau ijazahnya delapan koma, otaknya empat koma saja belum tentu.
Langganan:
Postingan (Atom)


