 |
Belkibal |
“Endonesa
tanah ailku tanah tumpah dalahku. Di sanalah aku beldili jadi pandu ibuku.
Endonesa kebangsaanku, bangsa dan tanah ailku. Malilah kita belselu Endonesa
belsatu…”
Lia tahu teman-temannya
sedang menertawakannya, namun ia sama sekali tak bergeming, ia terus menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Lia masih kelas satu sekolah dasar, dan ia sangat
suka hari Senin. Entah mengapa sejak hari pertama ia masuk sekolah ia sangat senang
bila waktu upacara tiba. Ia masih ingat saat pertama kali ia mendengar lagu
Indonesia Raya dinyanyikan dan bendera merah putih berkibar dengan gagahnya.
“Ma mengapa meleka selalu mengejeku bila aku belnyanyi?,”
Tanya Lia sepulang dari sekolah. Nafasnya masih terengah-engah dan keringat
masih mengalir dari keningnya. Ibunya tak menjawab apa-apa, ini sudah kesekian
kalinya Lia menanyakan pertanyaan yang sama. Hari ini Lia lagi-lagi tak
mendapatkan jawaban.
Senin-senin selanjutnya Lia tetap antusias mengikuti
upacara bendera. Ia selalu berdiri di barisan paling depan, menyanyi paling
lantang, tanpa peduli mata-mata yang memandangnya dengan aneh. ia sangat
menikmati ketika kain dua warna yand dikaguminya perlahan-lahan naik ke ujung
tiang bendera.
Pernah pada suatu hari Lia jatuh sakit, hari itu
hari senin dan Lia tetap memaksa sekolah.
“Lia hanya ingin upacala ma, setelah itu Lia akan
izin pulang,” Lia berusaha membujuk ibunya. Hari itu Lia kembali berdiri di
baris depan dan bernyanyi dengan lantang. Seperti biasa. Ada yang tertawa dan
ada pula yang menatapnya dengan pandangan aneh. Lia tak peduli.
Ejekan teman-temannya sama sekali tak pernah Lia
pedulikan .
“Dasar anak Cina!,” begitulah salah seorang teman
Lia memakinya saat Lia tanpa sengaja menumpahkan bekal yang di bawa teman
sebangkunya.
“Aku olang Indonesia,” ingin sekali Lia mengucapkan
kalimat itu, tapi ia hanya mampu menangis.
Sejak hari itu Lia menjadi pendiam dan sering
menyendiri. Tak ada yang menghiburnya, ia benar-benar sendiri.
“Ma, Lia ingin pindah,”
“Pindah? Kenapa?,” Keinginan Lia yang tiba-tiba ini
sangat mengejutkan ibunya.
“Lia ingin pindah, Lia ingin sekolah dengan Steven
saja,” Steven adalah sepupu jauh Lia.
“Kenapa? Ada yang salah dengan sekolahmu? di Sekolah
Steven anak kelas satu tidak boleh ikut upacara bendera lho!”
“Tidak apa, Lia tidak mau upacala lagi. Selamanya
tidak upacala lagi juga tidak apa-apa,” Lia menangis terisak-isak.
“Kamu di ejek teman-temanmu lagi?’.
“Meleka menyebut Lia anak Cina, meleka selalu
mengejek Lia karena lia tidak fasih menyanyikan lagu Endonesia Laya,”. Ibunya
menarik nafas dalam-dalam, sejak awal inilah yang sangat ditakutkannya. Terbayang
kembali dalam benaknya, berpuluh puluh
tahun yang lalu ia berhenti sekolah. Ia tidak tahan diejek teman-temannya
yang pribumi hanya karena tidak bisa menyebut huru “R”.
“Kamu ketulunan Cina nak, tapi kamu adalah olang
Indonesia,”
“Benarkah?,” Lia antusias.
“Iya, secara fisik kamu adalah cina, tapi hati kamu
nak, hati kamu adalah Indonesia,” Ibu
Lia memeluk Lia dengan erat.
“Banyak anak di lual sana yang katanya anak-anak
Indonesia ogah-ogahan saat upacara, dan kamu selalu menyambutnya dengan
bahagia,”
“Kamu lebih Indonesia dibanding meleka, belbanggalah
nak!,” Ibu Lia mengecup kening Lia, air matanya mengalir tak kuasa menahan
haru.
***
“Endonesa
tanah ailku tanah tumpah dalahku. Di sanalah aku beldili jadi pandu ibuku.
Endonesa kebangsaanku, bangsa dan tanah ailku. Malilah kita belselu Endonesa
belsatu…”
Seorang anak Indonesia, Lia Wang, berdiri di baris paling depan dan suaranya masih
tetap lantang. Kain dua warna berkibar di ujung tiang bendera. Masih ada saja yang menertawakannya, masih ada saja yang menatapnya dengan pandangan aneh. Lia tak peduli.