Kamis, 12 Juli 2012

"R"

Belkibal

“Endonesa tanah ailku tanah tumpah dalahku. Di sanalah aku beldili jadi pandu ibuku. Endonesa kebangsaanku, bangsa dan tanah ailku. Malilah kita belselu Endonesa belsatu…” 

Lia tahu teman-temannya sedang menertawakannya, namun ia sama sekali tak bergeming, ia terus  menyanyikan lagu Indonesia Raya. 

Lia masih kelas satu sekolah dasar, dan ia sangat suka hari Senin. Entah mengapa sejak hari pertama ia masuk sekolah ia sangat senang bila waktu upacara tiba. Ia masih ingat saat pertama kali ia mendengar lagu Indonesia Raya dinyanyikan dan bendera merah putih berkibar dengan gagahnya.

“Ma mengapa meleka selalu mengejeku bila aku belnyanyi?,” Tanya Lia sepulang dari sekolah. Nafasnya masih terengah-engah dan keringat masih mengalir dari keningnya. Ibunya tak menjawab apa-apa, ini sudah kesekian kalinya Lia menanyakan pertanyaan yang sama. Hari ini Lia lagi-lagi tak mendapatkan jawaban.

Senin-senin selanjutnya Lia tetap antusias mengikuti upacara bendera. Ia selalu berdiri di barisan paling depan, menyanyi paling lantang, tanpa peduli mata-mata yang memandangnya dengan aneh. ia sangat menikmati ketika kain dua warna yand dikaguminya perlahan-lahan naik ke ujung tiang bendera. 

Pernah pada suatu hari Lia jatuh sakit, hari itu hari senin dan Lia tetap memaksa sekolah.

“Lia hanya ingin upacala ma, setelah itu Lia akan izin pulang,” Lia berusaha membujuk ibunya. Hari itu Lia kembali berdiri di baris depan dan bernyanyi dengan lantang. Seperti biasa. Ada yang tertawa dan ada pula yang menatapnya dengan pandangan aneh. Lia tak peduli.

Ejekan teman-temannya sama sekali tak pernah Lia pedulikan . 

“Dasar anak Cina!,” begitulah salah seorang teman Lia memakinya saat Lia tanpa sengaja menumpahkan bekal yang di bawa teman sebangkunya. 

“Aku olang Indonesia,” ingin sekali Lia mengucapkan kalimat itu, tapi ia hanya mampu menangis.

Sejak hari itu Lia menjadi pendiam dan sering menyendiri. Tak ada yang menghiburnya, ia benar-benar sendiri. 

“Ma, Lia ingin pindah,”

“Pindah? Kenapa?,” Keinginan Lia yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan ibunya. 

“Lia ingin pindah, Lia ingin sekolah dengan Steven saja,” Steven adalah sepupu jauh Lia.

“Kenapa? Ada yang salah dengan sekolahmu? di Sekolah Steven anak kelas satu tidak boleh ikut upacara bendera lho!”

“Tidak apa, Lia tidak mau upacala lagi. Selamanya tidak upacala lagi juga tidak apa-apa,” Lia menangis terisak-isak.
 
“Kamu di ejek teman-temanmu lagi?’. 

“Meleka menyebut Lia anak Cina, meleka selalu mengejek Lia karena lia tidak fasih menyanyikan lagu Endonesia Laya,”. Ibunya menarik nafas dalam-dalam, sejak awal inilah yang sangat ditakutkannya. Terbayang kembali dalam benaknya, berpuluh puluh  tahun yang lalu ia berhenti sekolah. Ia tidak tahan diejek teman-temannya yang pribumi hanya karena tidak bisa menyebut huru “R”. 

“Kamu ketulunan Cina nak, tapi kamu adalah olang Indonesia,”

“Benarkah?,” Lia antusias.


“Iya, secara fisik kamu adalah cina, tapi hati kamu nak, hati kamu adalah Indonesia,”  Ibu Lia memeluk Lia dengan erat.

“Banyak anak di lual sana yang katanya anak-anak Indonesia ogah-ogahan saat upacara, dan kamu selalu menyambutnya dengan bahagia,” 

“Kamu lebih Indonesia dibanding meleka, belbanggalah nak!,” Ibu Lia mengecup kening Lia, air matanya mengalir tak kuasa menahan haru.

***

“Endonesa tanah ailku tanah tumpah dalahku. Di sanalah aku beldili jadi pandu ibuku. Endonesa kebangsaanku, bangsa dan tanah ailku. Malilah kita belselu Endonesa belsatu…”
Seorang anak Indonesia, Lia Wang, berdiri di baris paling depan dan suaranya masih tetap lantang. Kain dua warna berkibar di ujung tiang bendera.  Masih ada saja yang menertawakannya, masih ada saja yang menatapnya dengan pandangan aneh. Lia tak peduli.

16 Komendang:

BasithKA BALAS MON!!! mengatakan...

Ceritanya sederhana, tapi mengandung SARA, bang.

Memang sebagian besar orang cina itu cadel, tapi bukan berarti yang lain nggak, toh. Kekurangan itu wajar.

Menurutku sih, kurang enak aja menyangkut-pautkan hal ini dengan cina. Aku lebih suka, kalau kamu memasukkan satu tokoh lagi, contoh: sahabat Lia yang menghargainya, daripada menunjukkan sisi "ke-pede-an"/ nasionalismenya si Lia itu sendiri. Hehe

Satu lagi deh, dalam percakapan setelah tanda seru/ tanya (!/?) itu gak diikuti koma. Ini tentang EYD, tapi penting. :P

Coba lihat ini deh biar lebih jelas referensinya: http://id(dot)wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pedoman_penulisan_tanda_baca

PS: (dot)-nya diganti titik yo. Sorry kepanjangan. :P

Mamon BALAS MON!!! mengatakan...

hmh,,, SARA ya, tujuannya sih ma nunjukin aja kalau etnis atau ras tidak menentukan keindonesiaan seseorang. kenapa milih si Lia jadi nasionalis, pengen menunjukan aja kalau mereka yang dianggap pendatang bahkan bisa lebih nasionalis daripada kita. sebagai apresiasi aja sih terhadap mereka yang bahkan mewakili indonesia sampai tingkat internasional melalui olimpiade dan sebagainya

Glen Tripollo BALAS MON!!! mengatakan...

Menurut Gue sih kalo dari segi isi cerita nggak masalah ah. Ngga SARA yang negatif kok ini. Justru ada makna dan pesan yang bagus di dalam cerita ini. Yaitu ajakan untuk tidak bersikap rasis. Gue suka. Cuman ya, ngga semua orang keturunan Chinese cadel... :)

Oke, berhubung tadi request cabe, Gue langsung komentar sebagai seorang penulis yak... :D

Pertama, ga usah diulang deh, soalnya udah dikasih tau Basith mengenai EYD, dan itu mutlak penting banget. Jadi pelajarin baik2 yak... :D

Trus ada kesalahpahaman makna kata Brow...

BERGEMING itu dalam KBBI artinya DIAM. Jadi kalo TAK BERGEMING artinya NGGAK DIAM. Coba deh googling tentang maknanya dan pelajari beberapa kata yg kebanyakan orang salah kaprah mengartikannya... :D

Ia masih ingat saat pertama kali ia mendengar lagu Indonesia Raya dinyanyikan dan bendera merah putih berkibar dengan gagahnya.

Perhatikan kalo di kalimat ini ada 2 kata "ia" dan ini dalam struktur tulisan ngga baik karena terdapat pengulangan. Gue sih saran mendingan begini :

Ia masih ingat saat pertama kali dirinya mendengar lagu Indonesia Raya dinyanyikan dan bendera merah putih berkibar dengan gagahnya.

Untuk penulisan nama hari juga harus pake huruf kapital depannya. :D Begitu juga dengan menyebutkan nama negara.

Btw, endingnya kurang greget, maksudnya kurang semangat. Harusnya dibikin lebih menggambarkan semangat membara dari dalam diri Lia Wang.

Misalnya :
Seorang anak Indonesia, Lia Wang, berdiri di baris paling depan. Suaranya masih tetap lantang. Masih ada saja yang menertawakannya, masih ada saja yang memandangnya dengan tatapan aneh. Namun, tak sedikit pun Lia memperdulikannya. [insert some SPIRIT BOOSTER sentence here]

Oke, deh mungkin itu aja Mon... Semangat ya brow... :)

BasithKA BALAS MON!!! mengatakan...

Sip sip, semua tulisan memang memiliki tujuan dan maksud tersendiri dari penulisnya. Aku hanya menyampaikan hak pembaca. :P

katarinawina BALAS MON!!! mengatakan...

aku juga keturunan chinese tapi nggak cadel hehe :p dan bangga jadi orang indonesia pastinya B) ceritanya bagus kak :) tapi kok nggak happy ending :( seingetku Indonesia kan Bhineeka tunggal ika :D

kunjungi blogku juga ya di http://katarinawina.blogspot.com/ ;)

BasithKA BALAS MON!!! mengatakan...

Betewe, aku mau menyanggah komentar bang Glen tentang tak bergeming. Aku rasa esensinya udah benar kok, toh setelah penggunaan kata "tak bergeming" si Lia tetap bernyanyi. ;)

Glen Tripollo BALAS MON!!! mengatakan...

Soalnya yg Gue tangkep dari narasi itu menyatakan gesture... Gerakan tubuh... Kalo lagi nyanyi kan mulutnya doang komat-kamit, badannya tetep tegap gak bergerak... itu aja sih... :)

Chici Elsa BALAS MON!!! mengatakan...

dari pertama baca udah buat senyum-senyum sendiri.
lucu. tulisannya santai tapi masih ada pesan yang terkandung didalamnya.

#senyumku tambah lebar waktu baca "dasar anak cina!"
hoam, kata-kata itu yang selalu tertuju padaku.

#nggak biasa komentar, jadi cukup itu aja hehe

bagus aja kok ceritanya...

Mamon BALAS MON!!! mengatakan...

tentang "tak bergeming" tujuannya sih mau bilang kalau dia tak peduli, tetp aja terus nyanyi gitu. tapi semua pendpatnya ditampung buat ke depannya.

Mamon BALAS MON!!! mengatakan...

@Chici Elsa :) ternyata elsa chinese juga

Mamon BALAS MON!!! mengatakan...

@katarinawina hmh,,, ini sih hasil observasi di sekitar gue. kalo di skitar gue mereka masih kental bahasa cinanya sehingga bahasa indonesianya jadi cadel

Chici Elsa BALAS MON!!! mengatakan...

nggak chinese, cuma punya muka chinese hahhaha
antara cina dan dayak, nggak tau juga saya. lain anak kandung mama bapak ku kayaknya #kokjadiginikomentarnya hahhahaha

redaksi opera BALAS MON!!! mengatakan...

Muantap tenan...lanjutkan! Indonesia milik kita yang menumpang hidup disini

Dara Agusti Maulidya BALAS MON!!! mengatakan...

Topik yang diangkat udah oke menurutku, berhubung di Pontianak emang banyak yang kayak gitu u,u

Mungkin komentar bakalan sama kayak punya Basith dan Bang Glenn. Hanya ingin menambahkan, di dalam cerita ini terdapat beberapa ucapan Lia yang tidak konsisten, seperti:
# “Benarkah?,” Lia antusias #
*itu kok Lia bisa bilang huruf R kak?*

Selanjutnya, masih ada beberapa kata yang salah dalam pengetikan, seperti:

#kain dua warna yand dikaguminya# *seharusnya yang*

#karena lia tidak fasih# *seharusnya karena Lia*

Akhir kata saya mohon maaf jika banyak bacot, toh untuk perbaikan ke depan juga :)
TETAP SEMANGAT KAKA!

kepik_merahMarun BALAS MON!!! mengatakan...

bagus deh... ^_^V
bingung mo saran ap, udh diborong ma yg lain.

u pintar mmilih topik,
soal eyd,eksekusi ending, deskripsi, bisa dipelajri smbil brpross.

cuma mo nambahkn setuju dg bergeming, yg mknany tak bergerak. jadi, klo tak bergeming maknanya tak tak bergerak=tak diam=bergerak *duh ribet ya...
lalu ad, senin-senin selanjutnya... Senin selanjutnya... aj deh, boros bgts lo smp 2...

smngat! ^_^V

outbound malang outbounddimalang.com BALAS MON!!! mengatakan...

Terimakasih informasi nya gan, sangat bermanfaat :)
ditunggu kunjungan baliknya yaah ,