Tampilkan postingan dengan label SalStra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SalStra. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 April 2018

KOSONG


Pernah kau merasa kosong?
Saat kau pegang dadamu kau merasakan kehampaan.
Saat kau dengar detaknya, hanya degub dua degub yang terdengar.
Kau menjadi asing atas dirimu sendiri.
Kau menjadi bukan kau, menjadi manusia yang lain.

Pernahkah kau merasa dadamu tiba-tiba penuh?
Saat kau pegang dadamu kamu merasakan keriangan.
Saat kau dengar detaknya, beribu degub berlarian mencipta riuh.
Kamu tetap asing atas dirimu sendiri.
Kamu masih bukan kau, menjadi manusia yang lain.

Itu adalah saat kau takut kehilangan.


30-04-2018/11:08

Minggu, 27 September 2015

Pria Yang Menikahi Kesepian


di suatu waktu, aku bertemu seorang pria tua yang menghabiskwan sisa umur di gubuk reot di tepi kota. rambutnya sudah rontok, giginya tinggal seadanya.
saat aku bertamu ke rumahnya, aku melihat ia menggengam cangkir kopi yak tak lagi ada isinya. di depannya, sebuah buu catatan tebal tengah terbuka, dan di sampingnya tergeletak pena dari bulu angsa.
pria tua itu, pria yang puluhan lalu namanya dipuja-puji di seluruh kota. seorang penyair jenius yang semua sairnya mampu membuat derai air mata. derai haru derai duka.
aku duduk di sampingnya, melihat jarinya yang keriput mengetuk-ngetuk meja. kupikir ia sedang akan membuat sajak.
"sudah 10 tahun aku tak lagi menulis sajak, sajakku sudah mati, dikubur di dalam sunyi" ujarnya pelan, seolah membaca pikiranku barusan.
aku tak habis pikir kenapa ia memilih sendiri hingga renta. padahal puluhan tahun yang lalu, jikalau dia hendak malamar gadis maka tinggal tunjuk saja. niscaya sang gadis akan ikhlas menjadi istrinya.
"Semua wanita itu makannya nasi, bukan puisi" ujarnya lagi. Apakah ia benar-benar membaca pikiranku? entahlah. Ya, aku tahu hidup menjadi penyair tak ada duitnya. orang-orang gemar menikmati tapi enggan memberi. ia hanya pengamen sajak, membacakan sajak dari sisi jalan yang satu ke jalan yang lain. dari teras kafe yang satu ke teras yang lain. kadangkala ia mentas di panggung balai kota, tapi bayarannya hanya akan tahan untuk satu bulan saja. Ah tapi bukankah bila sudah cinta segala kesulitan tak akan begitu pahit? kenapa dia begitu betah sendiri?.
"Aku tak pernah sendiri anak muda. Aku telah menikahi kesunyian, kesunyian tak mengkhianati, tak akan pergi sebelum aku pergi". Sialan dia membaca pikiranku lagi. Aku menuangkan kopi dingin dari teko ke gelasnya. Satu sesapan, cangkir itu kosong lagi.
27-09-20115

Kamis, 17 September 2015

MAK CIK MARYAMAH

Pagi pagi sekali, makcik maryamah sudah pergi ke kebun karet untuk menoreh getah . Bukannya apa, sudah beberapa hari si bungsu merengek minta dibelikan sepatu baru. Itu adalah suatu ketika di musim penghujan sekitar 20 tahun yang lalu.
Si bungsu pagi itu bersumpah tak akan pergi sekolah kalau sepatu baru tak juga dibelikan. Bukannya apa, teman-temannya baru saja dapat sepatu bantuan pemerintah. Sialnya tak semua dapat, dan si bungsu salah satu yang tidak beruntung.
Berkali-kali Mak cik maryamah meminta si bungsu bersabar. Musim penghujan bukan waktu yang baik untuk menoreh getah. Tapi si bungsu tetap tak mau berhenti merengek. Seharian si bungsu guling-gulingan di teras rumah, tidak mau makan.
Padahal sebelum-sebelumnya si Bungsu itu tak pernah mengeluh. Sepatu putih yang dipakainya sejak lama memang sudah tak putih lagi. Bila sudah demikian biasanya ia mengumpulkan kapur sisa dari sekolah. Di tengah hari yang panas ia akan sibuk mengoleskan serbuk kapur ke sepatunya agar terlihat lebih putih.
Selain sebab sepatu teman-temannya yang baru ternyata ada lagi penyebab utama si bungsu ini merengek. Kelas lima, itulah kelasnya si Nurlela, anak kepala sekolah. Rambutnya panjang matanya berkilauan. Ada lesung pipit menghias kedua pipinya. Gadis yang ditaksir si bungsu diam-diam. Si bungsu yang sudah kelas enam sering pura-pura punya urusan di kelas lima. Diam diam curi curi pandang.

Rabu, 16 September 2015

Dia yang Duduk di Tepi Kapuas

itu adalah suatu malam yang hening di tepian kapuas. matanya lekat memandang langit malam denngan jutaan cahaya bintang. bibirnya komat-kamit seperti merafal mantra, atau entah menyebut sebuah nama.
ia duduk di gertak kayu yang sudah begitu tua, sesekali ombak air membuat gertak terasa bergetar. pikirannya melayang entah kemana, di matanya hanya terlihat seulas wajah, wajah yang terus menghantui malam-malamnya.
sudah setahun terakhir ia berulah demikian. teman-teman sebayanya, bapak-bapak yang nongkrong di warung kopi di dekat dermaga, juga ibu-ibu yang mencuci pakaian di lanting-lanting kecil, selalu menempelkan telunjuk yang dimiringkan di jidat setiap kali melihatnya.
usianya baru 22, baru terlepas dari masa remaja. hanya sekali jatuh cinta, dan ittu sudah cukup membuat hatinya merana demikian rupa`
suatu waktu satu tahun yang lalu ketika ia mengantar ikan pesanan pelanggannya yang punya rumah makan di persimpangan sana, ia berjumpa dengan wanita itu, wanita dengan bola mata yang mempesona, juga senyum yang mampu mendobrak jiwanya.
lalu perasaan itu membuat ia tak enak makan tak nyenyak tidur. tak ada pesananpun ia senantiasa datang ke rumah makan itu, pura-pura bertanya atau iseng membantu mencuci piring sambil curi-curi pandang barang sekejap dua kejap.
hanya tiga bulan saja, maka mendung sempurna menghiasi wajahnya. wanita itu, wanita yang dikaguminya diam-diam dilamar seorang juragan beras dari ibu kota, pria tua dengan kacamata dan giginya yang tinggal dua saja. ah, mengingatkan pada siti nurbaya saja.
tapi berbeda dengan siti nurbaya, sang wanita dengan senang menrima pinangan sang kakek yang sudah layak menyiapkan kafan itu. bagaimana tidak, dalam dua hari saja sang kakek sudah membuat ia harus berjalan terbungkuk-bungkuk karena beratnya kalung yang ia pakai.

Pak Tua Asap

Pria tua itu, pria dengan dasi merah menyala, pria dengan jas dapat beli dari Italia. Matanya memandang keluar, memandangi kabut yang menutupi pandangan matanya. ini sama sekali bukan embun.
Barusaja ia mendapat telepon, izin perusahaannya terancam dicabut. Tuntutan masyarakat kepada pemerintah berimbas pada pengusutan pelaku pembakaran lahan yang menyebabkan sekian juta masyarakat seperti ikan yang diasapi.
Beberapa menit yang lalu ia baru saja mengamuk di ruang kerjanya, melempar berkas-berkas penting ke sembarang tempat, memecahkan vas bunga, juga membanting komputer jinjing keluaran terbaru yang bahkan belum beredar di Indonesia.
"BANGSATTT!"

Si Alan

"Sialan!!" Serunya sambil meremas kertas di tangannya. Ini sudah ketiga kalinya ia gagal di tes yang sama. Dua tiga hari sebelum tes, bapaknya yang mantan sekretaris kelurahan itu sudah mewanti-mewanti agar ia giat belajar. Tapi dasar ia yang pemalas, ia malah menghabiskan beberapa hari terakhir dengan bermain layangan bersama anak-anak SD di gangnya.
Perang besar akan meledak di rumahnya. Sudah dua tahun ia luntang lantung. Setelah dua kali gagal masuk perguruan tinggi negeri, bapaknya tetap tak mengizinkannya masuk perguruan tinggi swasta. Maka resmilah ini adalah kegagalannya yang ketigakali.
"Perguruan Tinggi Negeri, atau tidak sama sekali" begitu ancam bapaknya pada suatu sore saat ia meminta bapaknya mengizinkan ia masuk perguruan negeri swasta saja. Ia hanya menundukkan kepala, memandang asbak berisi puntung rokok sisa bapaknya.
ini semua salah bapaknya, saat ia lulus SMA, bapaknya pamer kemana mana bahwa anaknya dapat nilai Ujian terbaik di sekolahnya. Nilainya nyaris rata-rata sembilan. Bapaknya yang masih senang mengenakan seragam dinas mesti tak lagi menjabat itu berbuih-buih mulutnya ketika bercerita tentang anaknya yang pasti akan lulus masuk perguruan tinggi negeri.
Yang bapaknya tidak tahu, anaknya yang ia bangga-banggakan itu tak lebih dari tukang bikin onar di sekokah. Dan nilai-nilai itu, adalah hasil kongkalikong dengan teman-temannya yang anak anggota dewan, membeli soal lengkap dengan jawabannya. Maka walau ijazahnya delapan koma, otaknya empat koma saja belum tentu.

Senin, 14 September 2015

Kamu dan Kenangan tentang Kepergian


Sudah berapa kali senja kau lewati sendiri?
Ribuan.
Matamu itu tak mahir berbohong, walau kau tersenyum matamu masih kosong.
Kau tahu? Kadang kita harus kehilangan untuk menyadari betapa berartinya seseorang.
Lihatlah kabut asap yang menutupi jingganya senja, begitulah kabut kesedihan menutupi wajah lugumu. Hujan turun dari matamu.
Tak ada yang perlu kau ratapi dan sesali. Sungguh kehidupan hanya bayang-bayang. Lakon dan peran sudah ditentukan, cepat atau lambat kita selalu dihadapkan pada kenyataan-kenyataan. Ada kenyataan yang menyenangkan, ada yang menyedihkan.
Tertawa adalah respon wajar untuk kebahagiaan, menangis adalah simbol wajar untuk kesedihan. Tapi tahukah kau bahwa kesedihan tak harus selalu diiiringi tangis. Kita adalah aktor, menangis adalah script yang tertulis, kalau kita tertawa dan menyalahi script ya boleh boleh saja. Walau orang orang akan menaruh telunjuk di jidat ke posisi miring melihatnya.
Tidak, aku tak memintamu untuk menertawakan kesedihan. Aku hanya memintamu untuk menyelesaikan script air mata. Bukalah halaman selanjutnya dari skenario kehidupan, mungkin ada script senyum di sana.
Tersenyumlah, aku ingin kau jatuh cinta.
14-09-15, 16:33

Senin, 08 September 2014

Bandara Saksi Mata


Banyak sudah air mata yang jatuh di bandara
Ada ibu yang menangisi kepergian anaknya
Ada istri yang melepas sang suami dengan derai air mata
Maka bandara menjadi saksi pilu demi pilu perpisahan

Di bandara pula gelak tawa pecah dari mereka yang bersuka ria
Sang ibu yang menyambut anaknya yang baru saja sarjana
Sang istri yang menyambut suaminya pulang dari perjalanan kerja
Serta anak-anak yang tak sabar minta oleh-oleh segera dibuka

Lihatlah! Pertemuan dan perpisahan tak berjarak di bandara. Tangis pedih, tangis rindu, tangis haru, semua di sini.

Dan bandara tetap bisu, rintik hujan yang turun, meleburkan kisah2 itu satu demi satu.

Gubuk Di Tepi Pantai


Dari jendela yang reot itu
Ia melihat ombak, melihat lambai kelapa memanggil angin, memanggil hujan
Dari jendela yang reot itu ia menunggu matahari pagi terbit dari kaki2 pulau yang berbaris di seberang
Ia tak lagi muda, raganya yang renta, terbujur diam di atas ranjang yang turut menua
Hanya matanya,hanya matanya memberi isyarat
Betapa kesepian telah membunuh sekian banyak waktunya
Dipandangnya figura tak berkaca yang tergantung miring di dinding kamarnya
"Pulanglah nak" bisiknya lirih.
Mendadak sunyi, desir angin melingkupi sepi

Ia pergi, dan anaknya pulang dengan derai air mata

Sepuluh Tahun


sepuluh tahun yang lalu, ia meninggalkan kampung halaman, berjanji tak akan pulang sebelum menang
sepuluh tahun yang lalu, ibunya menangis, menghantar ia di depan pintu bandara, air matanya, menjelma butir hujan yang jatuh di sepanjang sungai kapuas

sepuluh tahun lamanya ia pergi dan ibunya menunggu di rumah sambil menjahitkan kemeja untuk dipakai anak satu-satunya di perantauan ketika nanti pulang

sepuluh tahun berlalu dan tak juga ia muncul untuk memeluk, membawa pulang kemenangan seperti yang ia janjikan.

sepuluh tahun telah memakan usia ibunya, menjadi tua renta yang kesepian
sepuluh tahun sudah, telah pupus harapan, ia pulang namun tak mampu lagi memeluk dan mencium
ia pulang, ia pulang.

ketika gundukan tanah basah itu ditinggalkan, air mata ibunya yang dulu turun lagi sebagai butiran hujan, membasahi kesepian demi kesepian yang akan semakin panjang

Perjalanan keabadian


Telah kuterima suratmu, dari batangan hujan yang kau potong satu satu
Hujan yang tua itu, pernah singgah di batang2 bambu
Pernah singgah di genangan air di jalan jalan pemerintah
Bahkan sesekali mungkin menjadi genangan air kencingku
Panjang sekali ; perjalanannya adalah kebadian

Aku; Hujan


Aku ; rintik hujan yang jatuh di depan jendela kamarmu
Mengalir aku dan keakuanku dari parit, sungai, hingga samudera
Menjadi uap, menjadi embun, menjadi hujan, dan jatuh di depan jendela kamarmu
Berlari aku ke parit, ke sungai, terus ke samudera
Menjadi uap, menjadi embun, menjadi hujan
dan terap turun di depan jendela kamarmu
Aku ingin melihatmu sekali lagi, sekali lagi

Pontianak, 4/9/14 - 20:55

Sudah Bulan September

aku menulis gelisah di pucuk daun ketapang di depan rumah
bulir hujan yang pecah mengalir jatuh menyentuh tanah yang ramah
sudah bulan september, hujan mulai sering turun rintik
rindu menderu, hujan gemericik
pada senyumannmu yang ghaib, hujan menjelma sendiri menjadi puisi
bibirmu menjadi begitu magis, meranya merekah begitu manis
sudah bulan september, hujan turun di teras rumahku, sedangkan rindu lebur dalam kesepianku

Pontianak, 04/09/14-10:44

Tidakkah Kau Melihat?


tidakkah kau melihat langit ditinggikan, agar kau berdiri tegak tak menunduk sempoyongan
tapi mulut-mulutmu yang meracau, menyebut nama-Nya dalam kesepian tanpa pemahaman
tidakkah kau melihat bumi dikokohkan, agar kau berdiri tegak tak jatuh dan bergedebam
tapi kesombongan menutup hatimu dari benderang cahaya bintang kesadaran
Tidakkah kau melihat?

Pontianak, 04/09/14 - 10:13

Aku Bukan Penyair


aku bukan penyair,
hanya pemulung dari serakan kata-kata
mengumpulkan huruf demi huruf
untuk ditanak menjadi nasi puisi
aku bukan penyair
hanya pemulung dari serakan tanda baca
mengumpulkan degub demi degub
dari para pecinta yang kehilangan sajaknya

Pontianak, 4/9/14- 09:54

Kamis, 24 April 2014

MALA


Aku mendengus kesal. Nafasku tak lagi teratur. Sudah lebih dari satu jam aku mengitari Jalan Malioboro yang ramai.

Kemana dia menghilang?

Tadi seusai shalat maghrib aku melihatnya di pelataran masjid. Kutinggalkan mengambil ransel ia hilang begitu saja. Kupikir ia tak pergi jauh, pasti masih di sekitar Malioboro. Ternyata aku salah.

Sudah lebih dari setahun aku tak berjumpa dengannya. Terakhir aku mendengar ia melanjutkan Kuliah di Jakarta. Mala namanya, kami putus di akhir bulan Desember tahun lalu. Melihatnya hari ini membuat rasa yang mati-matian kubunuh kembali hidup. Mungkin masih ada kesempatan, mungkin belum terlambat. Toh, alasan kami putus menurutku tak masuk akal. Ia takut akan jarak.

Aku mengejar masa laluku, tapi ternyata aku tak mampu

Hampir  seminggu aku tinggal di Kota ini, Jogjakarta. Menghabiskan hari-hari di berbagai tempat wisata yang sudah lama kuimpi-impikan. Besok harusnya aku sudah berangkat ke Solo, menemui sepupuku yang tinggal di sana. Tapi melihat Mala malam ini membuat aku ragu. Mungkin ada kebetulan lain yang akan mempertemukan aku dengannya bila aku tetap di sini.

Kadang harapan tak selalu sama dengan kenyataan.

Aku berjalan lambat-lambat, meninggalkan keriuhan Malioboro yang tak pernah lekang.
Mataku kembali tertuju pada satu sosok. Wajah yang sangat tidak asing. Kerlap-kerlip lampu jalanan memantul di wajah ayunya. Tidak jauh dariku, Mala menggandeng seorang pria. Seseorang yang sangat kukenal, Aryo, Sahabatku sejak SMA dulu. Kulangkahkan kakiku menjauh, menuju Stasiun Tugu. Malam ini juga, kuucapkan selamat tinggal pada Jogja, pada keping masa lalu yang tertinggal di sana.

Mampuslah aku dengan segala rinduku sendiri.


Senin, 24 Februari 2014

PISAH


"Maafkan aku yang tak bisa menjadi seperti yang kau mau" Ujarmu lembut. Ini musim kemarau yang panjang di kota kita. Kabut asap tebal  membuat jarak pandang begitu pendek. Dan ketahuilah, kabut ini tak mampu menyembunyikan air mata yang mengalir di pipimu.

"Kita selalu punya rencana-rencana besar, namun dibalik itu semua kita hanyalah para pemeran yang harus selalu siap menerima skenario Tuhan" Bisikku sambil membelai rambutmu yang terurai. Rambut yang aromanya selalu kuingat bertahun-tahun ini.

"Jangan alihkan pembicaraan. Kau belum memaafkanku?". Ah kau, apakah kau melihat gurat kekecewaan di wajahku?.

"Tak ada yang perlu dimaafkan. Aku tak pernah meminta engkau berubah" Balasku sambil merangkul tubuhmu yang tampak kedinginan. Kau sudah lebih gemuk dibanding pertama kali kita bertemu dulu. Tanganku harus mendekap lebih lebar.

"Tapi aku tak bisa membuatmu bahagia". Kau menyandarkan kepalamu di bahuku. Dekapanku semakin erat, rasanya tak ingin kulepas. Aku benci perpisahan, namun aku benci pertemuan bila hanya untuk berpisah.

"Darimana kamu tahu aku tak bahagia? urusan hatiku mana kamu tahu walau kita bersama bertahun-tahun". Aku tak sanggup memandang matamu, aku tak mau membuat perpisahan ini semakin sulit.

"Bukankah selama ini kita terus melalui masa-masa sulit. Lebih banyak menangis bersama daripada tersenyum bersama". Kabut kian pekat dan aku tahu air mata semakin deras mengalir dari matamu.

"Itu yang membuatku bahagia. Kita melalui semua ini bersama. Menguatkan di kala rapuh, menegakkan di kala runtuh". Aku mengusap air matamu, tiba-tiba saja aku ingin melihat senyummu untuk terakkhir kali.

"Aku beruntung pernah mengenalmu", Kamu juga menggenggam tanganku yang masih di pipimu. Memamerkan deretan gigi putih yang senantiasa mempercantik senyummu. Ah! aku akan rindu senyum itu.

Malam kian dingin, rembulan bersinar redup di balik kabut. Kau meninggalkanku sendiri. Aku berjanji, besok di pelaminanmu, akan kukirim suamimu ke neraka.

baca cerita pendek dan puisi lain di sini

Minggu, 16 Februari 2014

Masihkah Ada Cinta Untukku?


"Masihkah ada cinta untukku?" ia menatapku penuh harap. Debur ombak memecah kesunyian malam, lampu-lampu mercusuar berkelap-kelip. Dua tiga perahu nelayan mulai meningalkan dermaga. Ia merapatkan jaketnya, malam begitu dingin.

"Masihkah ada cinta?. untuk waktu yang sekian lama aku lalui dalam kerinduan kau masih sempat bertanya masihkah ada cinta" Kata-kata itu sama sekali tak kuucap. hanya hening, hanya hening.

"Masihkah ada cinta untukku?" ia menatapkau sekali lagi, penuh harap. Sekali lagi debur ombak memecah kesunyian malam, mengembalikan ingatanku pada 6 tahun lalu. Saat ia pamit, ingin semua berakhir, karena baginya semua yang kami lalui bersama tak cukup membuatnya bahagia. Dan hari itu, aku hanya membalas dengan senyum. Senyum yang kemudian menjelma menjadi tangis bertahun-tahun.

Sabtu, 15 Februari 2014

Tentang Senja, Kopi, Lalu Matamu

 
boleh kutulis puisi tentang senja, sekali lagi

Di kedai kopi itu
Ketika di luar jalanan sedang macet dan lampu-lampu mulai dinyalakan
Mataku dan mata senja bertubrukan, jingganya pecah dan jatuh di cangkir-cangkir kopi yang isinya tinggal setengah
kuingat ibuku sedang sendiri di rumah, menjahit malamnya sendiri, dari kain perca sisa mengelap air mata

Mataku dan mata senja bertabrakan
Jingganya pecah menjadi bulir-bulir hujan
Ibuku di rumah mencuci kata yang mulai berdebu karena rindu

Kemaraunya Sang Penyair


setelah malam kian pekat seperti tinta penanya,
ia duduk sendiri di teras rumah, meminum kopi dari ampas tadi pagi,
sudah habis gula dan kopi di dapurnya,.yang tersisa hanya abu sisa buku nikah yang ia bakar bersama rindu, rindu yang tak pernah ingin ia usir sebenarnya,

dihembuskannya asap dari rongga hidungnya yang legam, akibat asap yang sama.bertahun-tahun,
tiga puntung rokok disambung dengan kertas koran, dijepit di antara telunjuk dan jari tengahnya,

kemarau telah terlalu lama, padi-padinya telah mati,.dan sang penyair tak jua punya ide mengarang puisi.