Senin, 22 Oktober 2012

Hujan Setahun Lalu

Sumber

Hujan mulai sering turun di Pontianak, Kotaku. Aroma hujan yang khas menguap dari tanah-tanah basah. Pagi ini matahari bersinar cerah. Seperti biasa, hujan mungkin akan turun sore nanti.

Hujan selalu menyimpan banyak kenangan. Entahlah, hujan memang seperti sebuah recorder, kadang ia merekam, kadang ia memutar kembali kenangan-kenangan itu.

Aku masih ingat, setahun yang lalu di bulan yang sama, hujan sering turun saat kita duduk berdua. Entahlah, seperti sebuah kebetulan bila kubersamamu, langit tiba-tiba gelap dan turun hujan. Saat itu aku percaya bahwa langit sedang memberi perpanjangan waktu untukku menikmati senyum cantikmu. Walau kamu asyik dengan handphone-mu dan aku asyik dengan twitter-ku.

Hujan menyimpan banyak kenangan tentang kita......

Aku juga masih ingat saat itu hari minggu, dan kita sedang makan siang bersama. Seperti biasa, langit yang semula cerah tiba-tiba berselimut mendung dan hujan benar-benar turun. Kita terperangkap lebih lama di sana. Kamu asyk dengan handphoe-ku dan aku asyik dengan twiter-ku.

Jalan-jalan mulai tergenang, kita masih duduk berdua dan masih diam. Sesekali aku mencuri padang kepadamu, berharap kamu tersenyum.

"Aku ingin kam jadi pacarku," kalmat itu tiba-tiba keluar begitu saja dari mulutku. Kamu  membisu. Kemudia kita sama-sama diam.

"Aku tak siap memperjuangkan cinta ini, terlalu berat. Biarlah kita menjadi sahabat, persahabatan tidak pernah menuntut "sama", selalu ada tempat untuk "perbedaan" dalam persahabatan,", kalimat itu kamu ucapkan sambil tetap menegtik pesan di andphone-mu, tiga puluh menit setelah kalimat terakhir yang keluar dari mulutku.

Hari itu, hujan merekam kekecewaanku, bukan kecewa padamu. Tapi pada keadaan, pada dunia yang menunutut kita harus sama untuk saling jatuh cinta.

1 Komendang:

Edotz Herjunot BALAS MON!!! mengatakan...

tulisan bagus mon .. tentang hujan dan suasaa di dalamnya ...
endingnya gue suka :))