Selasa, 13 Maret 2012

Dia itu Bapakku


Bapakku-Pahlawanku

Aku melihat sesosok tubuh berdiri di didepanku. Ia tak cukup tinggi, bahkan aku lebih tinggi darinya. Kulitnya mulai keriput, waktu telah memakan usianya. Dia itu Bapakku.

Dua puluh tiga tahun yang lalu, seorang pemuda kota, merantau jauh ke hulu sungai kapuas. Mengemban tugas mulia, menjadi seorang guru agama di sebuah kampung nun jauh di pedalaman. Ia benar-benar seorang pejuang, jauh jarak tak menjadi beban. Banyaknya sahabaa-sahabatnya  yang menolak ditugaskan ke pedalaman sama sekali tak membuat tekadnya runtuh. Telah tertanam di hatinya, tekad pengabdian yang kokoh. Dia itu Bapakku.

Satu minggu perjalanan ditempuhnya dari kota menuju ibukota kabupaten kapuas hulu. Kemudian diteruskan dengan satu hari perjalanan menuju tempat tugas. Ini sama sekali tak membuatnya gentar. Menjadi “Guru” adalah cita-citanya sejak kecil. Ia tak mungkin menyerah. Dia itu Bapakku.

Sebulan sekali, ia pergi ke ibukota kecamatan. Lagi-lagi jarak yang ditempuh tidaklah dekat. Untuk menerima gaji yang tak seberapa, ia butuh waktu berhari-hari. Tak Jarang Ibuku harus tinggal sendiri di rumah bersama abangku yang waktu itu masih sangat kecil. Tinggal di sebuah rumah kecil yang jauh dari keramaian, bahkan dekat dengan kuburan menjadi perjuangan sendiri buat Ibuku.  Demi seorang pria yang sedang berjuang, ibuku turut berjuang bersama. Dia itu Bapkku.

setelah beberapa kali pindah tempat tugas di kabupaten yang  sama, 12 Tahun lalu Dia kembali ke kota. Memboyong anak dan istrinya, memulai hidup yangbaru yang tetap tidak mudah. Tempat tugas yang baru cukup jauh dari rumah, dia yang masih hidup dengan sederhana tidak punya cukup uang untuk membeli sebuah motor. Setiap minggu sore ia mengayuh sepeda menuju tempat tugas, menginap, dan kembali di hari rabu. Dia benar-benar pahlawan. Dia itu Bapakku.

Empat tahun lalu, dia lolos kualifikasi sebagai kepala sekolah. Pintu harapan terbuka, namun perjuangan belum berakhir. Ia dipilih memimpin sebuah Sekolah yang cukup terpencil. Di sanalah ia berjuang untuk membangun, dengan inisiatif sendiri tanpa campur tangan pemerintah. Dia itu bapakku.

Dia seorang pahlawan, Dia itu Bapakku.

8 Komendang:

Annisa Solikha BALAS MON!!! mengatakan...

Bapak kamu hebat banget. Bapakku juga tak kalah hebat. He's our hero :)

NIT NOT BALAS MON!!! mengatakan...

Amy...jadi ingat bapak ane...benar2 semoga kita bisa mengikuti jejak kebaikan bapak2 kita ya...

Lulu Syifa Fauziah BALAS MON!!! mengatakan...

Terharu :')
keluargaku juga semuanya guru, cuma Ayahku udah nggak ada.
Sosok Ayah itu super hero even without super power :)

Azizan Hakim BALAS MON!!! mengatakan...

Bapak adalah yang terpenting selain ibu dan allah :)

Ummi BaBel BALAS MON!!! mengatakan...

Hebat...Bapakku juga hebat...bapak kamu hebat, bapaknya hebat...bapak kita paling hebat...jadi kita harus lebih hebat darinya...

Novitasari BALAS MON!!! mengatakan...

jadi kangen papa

armae BALAS MON!!! mengatakan...

"Dia itu bapakku..."

Selalu merinding saat baca bagian itu. Sungguh luar biasa perjuangan hidup beliau... :)

RyanF BALAS MON!!! mengatakan...

Yap... Demi menghidupi anak istrinya... Kepala keluarga rela bekerja mati2an... Jadi inget dulu ayah gue merantaunya lebih jauh... Gue ama mama gue di jakarta, ayah gue di batam... Tp itu demi keluarga