Keluarga gue
adalah keluarga yang sederhana, gaji bokap sebagai PNS bahkan kadang gak cukup
buat makan satu bulan. Sejak kecil gue terbiasa dengan keterbatasan. Inilah
yang menjadikan gue semangat untuk mengejar mimpi gue. Gue gak boleh tetap
dalam kekurangan, gue harus maju dan mampu berarti bagi orang banyak. Gue punya
mimpi untuk menjadi berarti bagi mereka yang kekurangan.
Dua puluh lima
tahun yang lalu bokap ditugaskan untuk mengajar di Kabupaten Kapuas Hulu,
sebuah kabupaten yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Sejak kecil bokap
bercita-cita jadi guru, tugas yang berat itu diterimanya dengan ikhlas. Dengan
semangat pengabdian beliau berangkat ke tempat tugas dengan menumpang perahu
dagang yang menuju Kapuas Hulu. Di tahun 80-an transportasi air memang menjadi
andalan di Kalimantan Barat, jalan darat masih berupa jalan-jalan tikus yang
tidak saling terhubung antar satu kabupaten ke kabupaten lain. Perjalanan
melalui jalur air juga tidak singkat, butuh dua minggu untuk sampai ke ibukota
kecamatan tempat bertugas. Dari ibukota kecamatan, bokap yang katanya waktu itu
masih ganteng, harus menempuh beberapa jam lagi untuk sampai ke tempat ia
ditugaskan, sebuah kampung bernama Nanga Ret.
Di Nanga Ret
bokap mengenal nyokap gue dan akhirnya menikah. di sini pula abang gue lahir.
Bokap yang ditugaskan menjadi Guru Pendidikan Agama Islam tidak hanya mengajar
di sekolah saja. Setiap sore sehabis ashar bokap juga menjadi guru mengaji bagi
beberapa anak di kampung.
Nyokap juga
pernah cerita kalau dulu nyokap ngajinya juga belum lancar. Setiap malam bokap
selalu meluangkan waktu buat mengajari nyokap mengaji. Kalau ibunya tidak
pandai mengaji bagaimana anaknya pintar
mengaji? Begitu katanya.
Dua tahun di
tempat tugas pertama ia akhirnya memutuskan pindah ke sekolah lain. Jangan
salah, ia sama sekali tidak melupakan tekad pengabdiannya. Ia tidak memilih
sekolah yang lebih dekat ke kecamatan, malah lebih jauh dan lebih terpencil. Di
sini bokap dan nyokap benar benar asing. Bila di tempat sebelumnya masih banyak
sanak saudara dari nyokap, di sini tidak ada sama sekali.
Di tempat yang
baru bokap tetap menjadi guru mengaji. Karena kampung yang baru lebih luas dari
sebelumnya, murid mengajinya lebih ramai dari sebelumnya. tak ada jeda
sedikitpun untuknya istirahat. Namun ia bahagia, karena ini adalah
cita-citanya.
Sri Wangi, di
sanalah gue lahir. Gue yang sejak dalam perut di prediksi dukun beranak sebagai
seorang cewek terlahir sebagai seorang cowok. Gue menjadi penghuni baru bagi
rumah dinas guru yang berukuran empat kali lima meter yang kami diami.
Bokap sering
banget bawa gue ke sekolah. Gue yang waktu itu masih bayi digendongnya ke
sekolah dengan kain dan terus digendong sambil mengajar. Kata nyokap dari empat
bersaudara, gue yang paling sering di gendong bokap. Sampai umur 6 tahun gue
masih digendong bokap setiap pulang dari rumah tetangga buat menonton televisi.
Bokap adalah seorang yang sederhana. Bagaimana
tidak, sepanjang menjadi guru ia hanya menerima gaji lima puluh ribu
sebulannya. Kalau sekarang uang sebanyak itu Cuma cukup buat gue jajan tiga
hari doang. Setelah gue lahir, kebutuhannya kian meningkat. Ini memaksanya
berpikir keras agar kebutuhan keluarganya tercukupi. Jika keputusannya adalah
berhemat, penghematan apalagi yang harus ia lakukan. Bahkan sejak menjadi guru
ia tak pernah membeli baju baru. Ia mengajar hanya dengan sebuah kemeja lusuh
dengan logo PGRI yang sudah tidak jelas. Murid-muridnya bahkan mungkin bosan
melihat bajunya ini. Setelah ditimbangnya masak-masak, ia akhirnya memutuskan
ikut menjadi kuli pemikul kayu. Pekerjaan yang dilakukannya setiap hari minggu
tiba.
Jangan mengira
bahwa kayu kayu yang diangkutnya adalah kayu kayu kecil yang beratnya sama
dengan sekarung beras. Kayu kayu yang diangkutnya adalah kayu kayu raksasa
berdiameter hampir satu meter dan beratnya lebih dari tiga kali berat dirinya.
Ia sama sekali tidak punya otot seperti Ade Rai. tubuhnya pendek, bahkan
perutnya buncit. Namun ia sama sekali tidak mengeluh, demi keluarga katanya.
Perjalanan yang
cukup jauh dari tengah belantara ke kampung membuatnya tiba di rumah pukul
Sembilan malam. Itupun jika tidak ada halangan. Ia tidak langsung
istirahat, masih disempatkannya bercanda
dengan anaknya walaupun tubuhnya terasa remuk
setelah berkerja seharian.
Tubuhnya yang
masih terasa pegal sama sekali tidak membuatnya terlambat datang ke sekolah.
Hari senin memang tak ada mata pelajaran pendidikan agama islam, tapi akibat
kekurangan tenaga guru, mata pelajaran lain pun di ajarkannya. Walaupun mata
pelajaran yang dipegangnya tidak sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya ia
tidak pernah menolak. Setiap malam ia selalu membuka buku pegangan guru untuk
mempersipakan materi yang akan diajarkan esok harinya. Walaupun mata pelajaran
itu bukan keahliannya, ia tak mau menyesatkan muridnya katanya.
Tidak hanya
sebatas itu. bila ada salah satu guru yang sakit dan tidak bisa mengajar ia
terkadang harus mengajar rangkap kelas. Dua kelas diajarkannya sendiri, bolak
balik ia di dua kelas.
Bokap sering
menggantikan temannya yang sakit, tapi bila ia yang sakit ia tetap mengajar.
Pernah suatu ketika penyakitnya benar-benar parah, bahkan untuk duduk saja
tidak mampu. Namun ia tetap memaksa untuk tetap mengajar. Maka dengan berat
hati nyokap memapahnya ke sekolah.
Di Sri Wangi
pula adik gue, muslim, lahir. Setelah sekian lama menjadi kuli pemikul kayu,
akhirnya bokap dan nyokap membuat sebuah warung kecil. Pilihannya kali ini
sama sekali tidak membuat pekerjaannya
ringan. Setiap minggu ia harus berjalan kaki berpuluh puluh kilometer untuk
membeli barang dagangan untuk dijual kembali dengan untung yang tidak besar.
Berangkat shubuh dan pulang di waktu senja adalah rutinitasnya setiap hari
minggu, berates ratus kilo barang dipanggulnya. tapi percayalah, ia bukan
pedagang, ia masih seorang guru.
Bokap pernah
membeli sebuah sepeda motor. . Ia tak pernah mengemudikannya. Sejak dibeli
sampai kemudian dijual, motor itu disewakannya pada seorang teman untuk
mengojek. “untuk apa saya motor? Pekerjaan saya hanya mengajar. Jalan kaki tak
sampai tiga menit dari rumah,” ujarnya sambil
tersenyum. Bokap bisa saja menjadi tukang ojek dengan motor barunya.
Tapi konsekuaensinya ia harus sering bolos mengajar, dan niat itu tidak sama
sekali terbersit dalam benaknya.
Setelah sekian
banyak murid dididiknya, akhirnya beberapa tahun kemudian ia kembali dimutasi
ke kampung lain. Kampung yang memang lebih dekat dengan ibukota kecamatan yang
baru. Dua tahun ia mengabdi. Sama seperti sebelumnya, ia juga menjadi guru
ngaji dan khatib shalat jum’at.
setelah beberapa
kali pindah tempat tugas di kabupaten yang sama, 12 Tahun lalu kami
sekeluarga pindah ke Pontianak kembali ke kota. Di sini akhirnya bokap
membangun istana mungil untuk kami berlima, waktu itu adik gue yang terkecil
belum lahir. Tempat tugas bokap yang baru cukup jauh dari rumah, bokap yang
masih hidup dengan sederhana tidak punya cukup uang untuk membeli sebuah motor.
Setiap minggu sore ia mengayuh sepeda menuju tempat tugas, menginap, dan
kembali di hari rabu.
Setahun pindah,
ia akhirnya memperoleh rezeki untuk membeli sebuah sepeda motor. Astria Prima
keluaran tahun Sembilan puluhan menjadi tunggangannyaa. Ia sangat bangga, motor
yang dipakainya adalah hasil jerih payahnya mengajar.
Tak berselang
lama, Tuhan membalas pengabdiannya selama ini. Bokap berkesempatan
melanjutkan kuliah S1 melalui program persamaan. Sabtu dan minggu
ia kuliah sedangkan hari lainnya tetap mengajar.
Saat kuliahpun
bokap tetap dikenal sebagai seorang yang sederhana. Bagaimana tidak, walaupun
ia seorang guru ia tidak pernah malu membawa bekal makanan dari rumah. Ia juga
tidak pernah memakai baju yang istimewa. Hanya tiga buah kemeja yang menjadi
andalannya. Sebuah sepatu karet senantiasa pula menemaninya. Ia seorang guru
yang bersahaja.
Empat tahun
lalu, dia lolos kualifikasi sebagai kepala sekolah. Pintu harapan terbuka,
namun perjuangan belum berakhir. Ia dipilih memimpin sebuah Sekolah yang cukup
terpencil. Jaraknya hanya satu jam ke ibukota provinsi, namun ia harus
menhadapi tantangan yang sama dengan tantangan yang dihadapinya sepuluh tahun
yang lalu.
Namun jiwanya
yang seorang pendidik tetaplah seorang pendidik. Semangatnya tidak pernah mati,
jiwa pengabdiannya tetap membara. Semua dihadapinya dengan ikhlas dan sabar.
Terbukti, empat tahun dipimpinnya, sekolah itu kian membaik keadaannya.
Gue gak peduli
kalau Andrea Hirata bilang Bokapnya adalah bokap nomor satu di seluruh dunia,
bagi gue Bokap gue adalah Bokap yang Ternomor satu di seluruh dunia. Bokap
emang sering ngomel, dan kadang gue emang kesal. Tapi gue yakin semua itu buat kebaikan gue.
Gue percaya
bahwa bentuk dari cinta yang sebenarnya adalah kepedulian. Bokap adalah orang
yang paling peduli yang pernah gue kenal. Pengabdian beliau menunjukan beliau
peduli akan masa depan anak bangsa. Itu berarti bokap mencintai bangsanya.
Bokap ngegendong gue ketika pulang nonton TV di rumah tetangga karena kaki gue
sering digigit semut api kalau jalan sendiri menunjukkan bahwa bokap peduli
sama gue, bokap sayang sama gue.
Itulah kenapa
ketika bokap mengarahkan gue ke jurusan guru gue manut dengan kehendaknya,
karena gue percaya bokap mau yang baik buat gue.

2 Komendang:
wah pernah tinggal di Kalimantan Mon?
@Honeylizious Rohani Syawaliah ampe sekarang kali kak :|
Posting Komentar